Foto: Koleksi Pribadi Pulau Padar, Manggarai Barat, NTT, M. Hifny
Tahun 2027 berpotensi menjadi periode penting bagi perkembangan perekonomian Indonesia sekaligus membuka ruang baru bagi industri jasa konsultasi. Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0% pada 2027 dengan arah kebijakan yang menekankan peningkatan investasi, produktivitas tenaga kerja, penguatan ekspor bernilai tambah, pengembangan industri, digitalisasi, artificial intelligence (AI), energi, kendaraan listrik, semikonduktor, serta penguatan sektor-sektor produktif lainnya.
Dalam kerangka tersebut, kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan, tetapi dengan mempertimbangkan keberlanjutan fiskal. Pemerintah juga menyiapkan berbagai program yang akan berlanjut pada 2027, antara lain program magang, pendidikan dan pelatihan vokasi, insentif pajak bagi kelompok pekerja tertentu, dukungan sektor perumahan, serta berbagai kebijakan untuk memperkuat perlindungan masyarakat dan produktivitas. Arah kebijakan tersebut menjadi penting bagi dunia usaha karena stimulus ekonomi tidak hanya berdampak pada besarnya pengeluaran pemerintah, tetapi juga dapat memengaruhi daya beli, investasi, aktivitas produksi, permintaan pasar, serta keputusan bisnis perusahaan.
Bagi perusahaan konsultan manajemen dan riset marketing, perubahan kondisi ekonomi tersebut perlu dilihat bukan semata-mata dari besarnya anggaran stimulus, tetapi dari kebutuhan baru yang muncul sebagai konsekuensi dari perubahan aktivitas ekonomi. Ketika pemerintah meningkatkan program pembangunan dan pelayanan publik, kebutuhan terhadap survei, monitoring, evaluasi, kajian kebijakan, pengukuran kepuasan masyarakat, studi dampak, dan penelitian perilaku masyarakat dapat meningkat. Demikian pula ketika aktivitas investasi dan bisnis berkembang, perusahaan swasta membutuhkan informasi yang lebih akurat mengenai kondisi pasar, perilaku konsumen, tingkat persaingan, potensi pasar, customer experience, brand perception, pricing, serta efektivitas strategi pemasaran.
Dengan demikian, terdapat hubungan tidak langsung antara stimulus ekonomi dengan peluang industri konsultan, yaitu melalui mekanisme peningkatan aktivitas ekonomi yang kemudian menciptakan kebutuhan terhadap data, analisis, dan dukungan pengambilan keputusan. Namun, peningkatan aktivitas ekonomi tidak secara otomatis berarti seluruh perusahaan konsultan akan mengalami pertumbuhan, karena peluang tersebut tetap dipengaruhi oleh tingkat persaingan, kemampuan perusahaan, kualitas layanan, harga, reputasi, jaringan bisnis, dan kemampuan memahami kebutuhan klien.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan karena persaingan industri konsultan manajemen dan riset marketing terus mengalami perubahan. Perusahaan konsultan tidak hanya bersaing dengan sesama perusahaan riset atau konsultan, tetapi juga dengan perusahaan teknologi, digital agency, platform survei, data provider, lembaga penelitian, freelancer, serta kemampuan internal perusahaan klien dalam mengolah data secara mandiri. Perkembangan teknologi digital memungkinkan perusahaan memperoleh data dari berbagai sumber, seperti transaksi digital, media sosial, marketplace, aplikasi, website, customer relationship management, dan berbagai platform digital lainnya.
Di sisi lain, artificial intelligence semakin banyak digunakan untuk membantu proses pengolahan dan analisis data. AI dapat membantu perusahaan dalam melakukan data cleaning, klasifikasi jawaban terbuka, sentiment analysis, penyusunan ringkasan wawancara, eksplorasi data, hingga pembuatan laporan awal. Yang et al. (2024) menunjukkan bahwa adopsi AI dalam industri jasa profesional dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kesiapan teknologi, kemampuan organisasi, ukuran perusahaan, lingkungan persaingan, dan regulasi. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan konsultan perlu beradaptasi karena pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif semakin mudah dilakukan dengan bantuan teknologi.
Meskipun demikian, perkembangan AI tidak berarti menghilangkan kebutuhan terhadap perusahaan konsultan. Sebaliknya, peran konsultan dapat bergeser dari pekerjaan yang bersifat administratif menuju pekerjaan yang lebih membutuhkan pemahaman bisnis, interpretasi, dan kemampuan memberikan rekomendasi. Nilai utama perusahaan konsultan bukan hanya terletak pada kemampuannya mengumpulkan data, tetapi pada kemampuan mengubah data menjadi informasi, informasi menjadi insight, dan insight menjadi rekomendasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Klien pada dasarnya tidak membeli data hanya untuk memiliki data, tetapi membutuhkan data untuk mengurangi ketidakpastian dan membantu menentukan tindakan yang tepat. Oleh karena itu, perusahaan konsultan perlu mengembangkan positioning dari sekadar research provider menjadi insight partner bagi klien. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan menyediakan layanan yang tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi dilanjutkan dengan analisis, interpretasi, pemetaan masalah, identifikasi peluang, dan rekomendasi strategis yang relevan dengan kebutuhan bisnis klien.
Dalam lingkup pasar pemerintah, peluang tersebut dapat berkembang seiring meningkatnya kebutuhan terhadap monitoring dan evaluasi berbagai program pembangunan. Setiap program pemerintah yang menggunakan anggaran dan menyasar masyarakat membutuhkan informasi mengenai efektivitas pelaksanaan, tingkat pemanfaatan, kepuasan penerima manfaat, kualitas pelayanan, serta hambatan yang terjadi di lapangan. Perusahaan konsultan manajemen dan riset marketing dapat berperan melalui survei kepuasan masyarakat, evaluasi program, kajian persepsi publik, studi perilaku masyarakat, impact assessment, serta penelitian mengenai kualitas pelayanan.
Peran tersebut menjadi semakin penting karena pemerintah membutuhkan data sebagai dasar untuk mengevaluasi apakah sebuah program telah mencapai kelompok sasaran dan menghasilkan manfaat sesuai tujuan. Dalam konteks ini, perusahaan riset marketing memiliki peluang untuk memperluas positioning dari penyedia jasa survei menjadi mitra riset dan penyedia insight bagi pemerintah, BUMN, pemerintah daerah, dan institusi pelayanan publik.
Pada sektor swasta, peluang juga muncul dari perubahan perilaku konsumen dan meningkatnya kompetisi. Ketika daya beli, investasi, dan aktivitas ekonomi mengalami perubahan, perusahaan perlu memahami bagaimana konsumen merespons perubahan tersebut. Perusahaan membutuhkan informasi mengenai segmentasi pasar, preferensi konsumen, brand awareness, brand image, customer satisfaction, customer experience, customer loyalty, pricing, customer journey, dan competitive intelligence. Perubahan perilaku konsumen di era digital membuat proses pengambilan keputusan menjadi semakin kompleks karena konsumen memperoleh informasi melalui berbagai saluran, mulai dari marketplace, media sosial, website, aplikasi, influencer, komunitas, hingga layanan pelanggan.
Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan bahwa AI mulai semakin berperan dalam pengalaman konsumen digital di Asia Tenggara, termasuk dalam proses pencarian dan perbandingan produk. Perubahan tersebut membuka peluang baru bagi perusahaan riset untuk mengembangkan penelitian mengenai digital consumer behavior, digital trust, customer experience, penggunaan AI oleh konsumen, dan perubahan customer journey.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, spesialisasi menjadi salah satu aspek yang dapat diperkuat oleh perusahaan konsultan. Perusahaan tidak harus menawarkan seluruh jenis layanan kepada seluruh sektor pasar secara bersamaan, tetapi dapat membangun keunggulan pada beberapa bidang yang memiliki peluang dan kebutuhan tinggi. Misalnya, perusahaan dapat memperkuat kompetensi pada government and public policy research, customer and market research, business and management consulting, digital consumer insight, atau industry research.
Dengan memiliki spesialisasi yang jelas, perusahaan akan lebih mudah membangun positioning dan menunjukkan kompetensinya kepada calon klien. Spesialisasi juga memungkinkan perusahaan membangun database, metodologi, benchmark, dan pengalaman proyek yang lebih mendalam pada sektor tertentu sehingga proses penyusunan proposal dan pelaksanaan proyek dapat dilakukan secara lebih efektif.
Persaingan harga juga perlu menjadi perhatian. Dalam industri konsultan, memenangkan proyek hanya melalui harga rendah dapat menyebabkan tekanan terhadap margin dan mengurangi kemampuan perusahaan untuk berinvestasi pada sumber daya manusia, teknologi, metodologi, serta pengembangan bisnis. Karena itu, perusahaan perlu membangun value-based positioning dengan menunjukkan manfaat konkret yang diberikan kepada klien.
Perusahaan tidak cukup hanya mengatakan bahwa mampu melakukan survei terhadap sejumlah responden, tetapi perlu menjelaskan bagaimana hasil penelitian dapat membantu klien memahami pasar, menemukan masalah, mengidentifikasi peluang, mengurangi risiko, atau meningkatkan kualitas keputusan. Dengan demikian, fokus pemasaran dapat bergeser dari “berapa jumlah responden dan berapa harga penelitian” menjadi “masalah bisnis apa yang dapat diselesaikan melalui penelitian tersebut”.
Selain kualitas analisis, penguasaan teknologi juga akan menjadi faktor penting dalam persaingan industri konsultan pada 2027. Perusahaan dapat menggunakan AI dan automation untuk meningkatkan efisiensi pada berbagai tahapan penelitian, mulai dari penyusunan draft instrumen, pengolahan data, coding jawaban terbuka, klasifikasi data, analisis awal, hingga penyusunan visualisasi. Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pengawasan manusia, terutama dalam memastikan kualitas data, validitas metodologi, interpretasi hasil, keamanan informasi, dan relevansi rekomendasi.
Hal ini penting karena penggunaan AI memiliki keterbatasan dan risiko, termasuk potensi kesalahan, bias, masalah privasi, serta ketergantungan terhadap kualitas data yang digunakan. Oleh karena itu, keunggulan perusahaan konsultan pada masa depan bukan hanya kemampuan menggunakan AI, tetapi kemampuan menggabungkan teknologi dengan kompetensi manusia, metodologi penelitian, pengetahuan industri, dan pemahaman terhadap kebutuhan klien.
Strategi pertumbuhan perusahaan konsultan menuju 2027 juga perlu diarahkan dari pola “menunggu proyek” menjadi “membangun pipeline”. Dalam pola lama, perusahaan cenderung menunggu tender atau permintaan proposal kemudian berkompetisi berdasarkan harga, pengalaman, dan persyaratan administrasi. Pendekatan yang lebih proaktif adalah memantau arah kebijakan pemerintah, perkembangan sektor industri, kebutuhan calon klien, perubahan perilaku konsumen, serta proyek yang berpotensi muncul.
Dalam pasar pemerintah, perusahaan dapat melakukan market intelligence dengan memantau Rencana Umum Pengadaan, LPSE, program kementerian dan lembaga, kebijakan pemerintah daerah, serta kebutuhan monitoring dan evaluasi. Sementara itu, pada pasar korporasi, perusahaan dapat memetakan industri yang sedang berkembang, perusahaan yang melakukan ekspansi, produk baru, perubahan strategi bisnis, dan kebutuhan riset yang mungkin muncul. Dengan pendekatan tersebut, aktivitas marketing tidak hanya berfungsi mencari proyek, tetapi juga menjadi bagian dari proses intelligence perusahaan.
Pengembangan model bisnis juga dapat menjadi bagian dari strategi pertumbuhan. Perusahaan konsultan dapat mengurangi ketergantungan terhadap proyek satu kali dengan menawarkan layanan berulang seperti retainer consulting, subscription research, continuous brand tracking, customer satisfaction tracking, customer experience monitoring, atau dashboard market intelligence.
Model tersebut memungkinkan perusahaan membangun hubungan jangka panjang dengan klien sekaligus memperoleh data secara berkala sehingga analisis yang dihasilkan dapat menjadi lebih kaya. Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, hubungan jangka panjang juga dapat memberikan nilai tambah karena perusahaan konsultan memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap bisnis klien dan tidak harus memulai proses dari awal pada setiap proyek.
Diversifikasi pasar juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber pendapatan. Perusahaan konsultan dapat membangun portofolio yang mencakup pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, sektor FMCG, retail, financial services, automotive, F&B, healthcare, transportasi, telekomunikasi, teknologi, e-commerce, dan sektor lainnya.
Diversifikasi tersebut dapat membantu perusahaan menghadapi perubahan siklus bisnis. Ketika permintaan dari satu sektor menurun, perusahaan masih memiliki peluang dari sektor lain. Namun, diversifikasi tetap perlu dilakukan secara selektif agar tidak menyebabkan sumber daya perusahaan terlalu tersebar dan positioning menjadi kurang jelas.
Kolaborasi juga dapat menjadi strategi untuk meningkatkan kemampuan bersaing. Perusahaan konsultan lokal dapat membangun kerja sama dengan universitas, lembaga penelitian, data provider, perusahaan teknologi, digital agency, tenaga ahli, dan konsultan dari bidang lain. Melalui kolaborasi, perusahaan dapat mengikuti proyek dengan kebutuhan yang lebih kompleks tanpa harus memiliki seluruh kompetensi secara internal.
Dalam industri jasa profesional, kemampuan membangun jaringan dan ekosistem menjadi semakin penting karena kebutuhan klien sering kali bersifat multidisiplin. Sebuah proyek riset pasar, misalnya, dapat membutuhkan kemampuan survei, data analytics, digital marketing, financial analysis, teknologi, hingga strategic consulting secara bersamaan.
Pada perusahaan konsultan manajemen dan riset pemasaran, arah perkembangan tersebut dapat menjadi dasar untuk memperkuat strategi pemasaran dan pengembangan bisnis. Perusahaan dapat membangun portofolio yang menggabungkan jasa riset marketing, survei publik, customer experience, kajian manajemen, monitoring dan evaluasi, serta market intelligence. Pengalaman mengerjakan proyek pada sektor pemerintah dan korporasi dapat dikembangkan menjadi case study untuk memperkuat kredibilitas perusahaan.
Selain itu, database proyek sebelumnya dapat dikembangkan menjadi knowledge management sehingga pengalaman setiap proyek tidak berhenti pada laporan kepada klien, tetapi menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk menyusun proposal, mengembangkan metodologi, dan mempercepat proses penelitian berikutnya. Dengan demikian, pengalaman proyek dapat menjadi aset strategis perusahaan.
Pada akhirnya, peluang ekonomi 2027 bagi industri konsultan manajemen dan riset marketing tidak hanya ditentukan oleh besarnya stimulus pemerintah. Faktor yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan membaca perubahan kebutuhan yang muncul dari perkembangan ekonomi tersebut. Target pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal, peningkatan investasi, digitalisasi, perkembangan AI, perubahan perilaku konsumen, dan meningkatnya kebutuhan evaluasi program pemerintah semuanya dapat menciptakan kebutuhan baru terhadap data dan insight. Namun, peluang tersebut berada dalam lingkungan persaingan yang semakin terbuka. Perusahaan konsultan perlu meningkatkan kualitas metodologi, kompetensi sumber daya manusia, teknologi, kecepatan layanan, keamanan data, spesialisasi industri, dan kemampuan menerjemahkan hasil penelitian menjadi rekomendasi yang dapat digunakan.
Dengan demikian, strategi pertumbuhan menuju 2027 dapat diarahkan dari sekadar mencari proyek menjadi membangun pipeline, dari menjual survei menjadi menyediakan insight, dari menjadi vendor menjadi mitra pengambilan keputusan, serta dari mengandalkan pekerjaan manual menjadi memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Dalam perspektif tersebut, ekonomi 2027 bukan hanya perlu dibaca sebagai perubahan angka pertumbuhan dan stimulus, tetapi sebagai perubahan kebutuhan pasar yang dapat membentuk arah baru bagi industri konsultan manajemen dan riset marketing.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2026, August 5). Ekonomi Indonesia triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen (y-on-y). Badan Pusat Statistik
Bank Indonesia. (2026). Laporan perekonomian Indonesia tahun 2025. Bank Indonesia
Chaerunnisa, C., Hurriyati, R., Hendrayati, H., & Dirgantari, P. D. (2025). Effect of strategic planning, business innovation, digital transformation, and organisational agility on competitive advantage of modern service companies in West Java. Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan, 13(5), 4121–4138. https://doi.org/10.37641/jimkes.v13i5.3873
Crișan, E. L., & Marincean, R.-A. (2023). The digital transformation of management consulting companies: A review. Information Systems and e-Business Management, 21, 341–359. https://doi.org/10.1007/s10257-023-00624-4
Google, Temasek, & Bain & Company. (2025). e-Conomy SEA 2025: From digital decade to AI reality—Accelerating the future in ASEAN.
International Monetary Fund. (2026). Indonesia: 2025 Article IV consultation—Press release; staff report; and statement by the executive director for Indonesia (IMF Country Report No. 26/010). https://doi.org/10.5089/9798229035576.002
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026, September 24). Banggar DPR RI dan Pemerintah sepakati RUU APBN 2027 untuk dibawa ke rapat paripurna. Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2026, September 29). Pemerintah siapkan strategi perkuat investasi dan produktivitas untuk capai pertumbuhan ekonomi tahun 2027. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2026, September 30). Pemerintah siapkan sejumlah program ekonomi untuk perkuat perlindungan masyarakat dan dorong pertumbuhan di 2027. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Nahru, G., & Lestari, Y. D. (2023). Dukungan digital transformation pada daya saing PT Pembangkitan Jawa Bali Services. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 8(8), 5697–5705. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v8i8.13294
Sampson, S. E., & dos Santos, R. P. (2023). Reengineering professional services through automation, remote outsourcing, and task delegation. Journal of Operations Management, 69(6), 911–940. https://doi.org/10.1002/joom.1268
Westerveld, P., Fielt, E., Desouza, K. C., & Gable, G. G. (2023). Digital transformation in professional services firms: A business model portfolio perspective. ACIS 2023 Proceedings, 45.
Williams, C., & van Triest, S. (2023). Understanding performance in professional services for innovation intermediation: Technology consultants vs. management consultants. Technovation, 126, Article 102824. https://doi.org/10.1016/j.technovation.2023.102824
Yang, J., Blount, Y., & Amrollahi, A. (2024). Artificial intelligence adoption in a professional service industry: A multiple case study. Technological Forecasting and Social Change, 201, Article 123251. https://doi.org/10.1016/j.techfore.2024.123251
